Siswa, Wali murid dan Guru MI Muhammadiyah Nonton Bareng Jejak 2 Ulama

Siswa – siswi, guru dan wali murid MI Muhammadiyah melaksanakan nobar “Jejak Langkah Dua Ulama” di gedung serbaguna SMK Muhammadiyah Belik, Kamis 12 Maret 2020.

Siswa-siswi, Guru dan wali murid berswafoto bersama

Acara dipersembahkan oleh PCM Belik yang bekerja sama dengan SMK Muhammadiyah Belik. Film ini memiliki pesan yang sangat kuat bahwa antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama memiliki ikatan sejarah, kekeluargaan, dan persaudaraan yang sangat kuat. Walaupun antara KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari terdapat perbedaan dalam urusan khilafiyah namun keduanya tidak pernah membeda-bedakan dan tidak sekalipun memperdebatkan paham keagamaan masing-masing. Bahkan dengan jiwa besar keduanya saling menghormati dan mendukung dakwah amar ma’ruf nahi mungkar yang mereka berdua lakukan.

Dalam film “Jejak Langkah 2 Ulama” ada sebuah kisah menarik saat salah seorang murid KH. Ahmad Dahlan pergi menemui KH. Hasyim Asy’ari di Jombang untuk meminta fatwa tentang ajaran KH. Ahmad Dahlan yang menurutnya nyeleneh, baru, dan tidak sesuai dengan budaya saat itu. Dengan lugas KH. Hasyim Asy’ari menjawab, “Beliau adalah seorang yang alim. Tidak mungkin beliau melakukan hal yang sembrono. Beliau tahu apa yang harus dilakukannya. Pulang dan bantulah KH. Ahmad Dahlan”.

Film Jejak Langkah 2 Ulama mengandung banyak sekali pesan moral dan nilai-nilai kemuliaan. KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari merupakan sosok yang sangat cinta terhadap ilmu. Karena keluasan ilmunyalah membuat keduanya mampu menyikapi perbedaan. Perbedaan bukan untuk dibeda-bedakan, mencari persamaan diantara yang berbeda merupakan keutamaan.

Film ini sangat cocok ditonton untuk seluruh kalangan, tua, muda, laki-laki, perempuan, dewasa, maupun anak-anak. Banyak sekali pelajaran sekaligus motivasi yang dapat diambil. Film ini juga mampu membuat siapapun yang menontonnya merasa terharu karena terbawa suasana dan lantas memunculkan kebanggaan menjadi bagian dari kedua ormas Islam Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. (Eka Mulyanti)

Leave a Reply